Menunggu Pelangi

Dibawah payung hitam

Aku sibuk menghitung

Apakah ini rintik hujan ataukah bulir dari sepasang mata yang kelam


Cerita tentang Puding Gula Merah

Pada suatu sore, Jati lagi makan puding disuapin ibu. “Kakang mamam uding angga.” Kata dia sambil main. 

Emang Jati suka ngucapin kalimat tentang hal yang sedang dia lakukan atau dia lihat. 

Saya jawab, “ini bukan puding mangga (ini pasti karena kemaren-kemarennya dia makan puding mangga). Ini puding gula merah” “Puding apa, Kakang?” Maksudnya sih minta dia ucapin ulang. 

Jati diam dan hanya liat wadah pudingnya lalu liat ke ibu. “uding gula okat” sambil ngangguk dan ngeloyor.

Eh bener juga ya..ini kan warnanya bukan merah tapi coklat. Hahaa… kena lagi deh.

Jati sayang, kelak kamu akan belajar kalau di dunia ini memang banyak hal yang ga sesuai sama namanya. Hihiii..


Kembali Menangkap Cahaya lewat Rana

Melahirkan dan disibukan dengan mengurus anak berdua suami tanpa bantuan orang lain, membuat hobi saya memotret dengan kamera tertinggal sementara. Ya motret sih teteup tapi hanya pake HP dan dengan modelnya lagi-lagi si anak bayi hampir setiap hari (ya adalah foto ayahnya nongol sama kuliner sesekali). Maklum..namanya juga anak pertama jadi rasanya hampir setiap moment berharga. Motret yang selalu ready dan praktis ya pake HP aja sampe2 memory HP full teruuss.  Tapi sensasinya tentu saja jauuuuh berbeda dibandingkan dengan memotret dengan kamera dan itulah yang seringkali saya rindukan. 
Beberapa hari ini mulai pegang lagi si DSLR gara-gara di suatu pagi rumah didatengin matahari yang sumringah banget setelah 2 minggu lebih lamanya hanya berhias mendung dan hujan. Ketika emak2 lain sibuk mengeluarkan jemurannya untuk dikibarkan, saya malah mengeluarkan si Canon 60
D kesayangan sama lensanya pake yang  100mm karena lagi pingin macroan. Enaknya macroan, hunting bisa di halaman rumah aja sambil ngajak mandi matahari si kecil yang alhamdulillah usianya sekarang udah 20bulan. Segini juga udah lumayan banget bisa mengobati kerinduan akan hunting yang sesungguhnya.  Apa itu hunting sesungguhnya versi saya? Jalan kaki menyusuri jalanan, menyusuri sawah/kebon/sungai, menghadiri acara/kegiatan, bertemu orang-orang, atau mendatangi tempat-tempat yang pokoknya menginspirasi saya. Bisa menangkap wajah-wajah atau peristiwa sekitar yang menurut saya menarik dan mengabadikan moment-moment yang belum tentu bisa diulang itu rasanya gimanaaaa gitu. Menyenangkan dan menenangkan. Pasti yang punya hobi fotografi juga merasakan hal yang sama deh. 
Lama ga angkat senjata dan lama ga berlatih membuat refleks  terhadap si kamera kesayangan jauh menurun. Lambat banget jadinya ngatur ISO, Apperture n Speed alhasil bikin banyak kehilangan moment apalagi kejar-kejaran sama matahari. Kebingungan komposisi pula yang berakibat kitu deui kitu deui tampilannya teh. Dari sekian puluh jepret paling hanya satu yang bagus. Hiksss.. harus berlatih lagi ini mah.. đŸ˜¦ 


Bawang Merah Bawang Putih

Sebenarnya ini cerita sekitar 2 bulan lalu, sewaktu anak saya Jati usianya 18 bulan dan lagi seneng ngerecokin hal-hal yang ibunya kerjain. Ibu lagi ngupasin aneka bawang buat dibikin stok bumbu. Sekalian aja sambil ngajarin Jati yang lagi bawel belajar ngomong dan belajar warna. 

Ibu: kakang, ini bawang putih (sambil nunjukin bawang putih)

Jati: ang

I: bawang putih

J: wang utih

I: good. Yang ini bawang bombay (sambil pegang bawang bombay)

J: wang bei

I: Yang ini bawang merah (sambil nunjukin bawang merah)

Jati diem aja sambil liatin bawangnya. 

I: bawang merah. Merah. Coba bilang!

J: ungu

I: ko ungu sih…merah. bawang merah

J: ungu bu..ungu.. sambil nunjuk bawang merahnya.

Setelah diperhatiin bener juga ya, warnanya ungu. Hahaa…

Siapa sih awalnya yang namain ini bawang merah kalo udah dikupas keliatan banget malah warna ungunya? Hahaa.. 


Rindu 

Rinduku tak terbendung sudah
Izinkan aku menemuimu kembali

Mengeja larik-larik yang sempat hilang dalam ingatan

Kali ini aku nyatakan

Ingin hidup dalam aliran darahmu sekali lagi
Kata-kata oleh Pemilik Blog

2016


Kaktus

image

Seperti katamu
Rindu itu menusuk-nusuk


Selamat malam Pak BW

“Selamat malam, Pak!
Gimana kabarnya sekarang, sehat?” Tanya saya sambil mengajaknya bersalaman.

“Alhamdulillah sangat baik. Selain pertanyaan itu, ada dua hal lagi yang seharusnya Mbak tanyakan pada saya. Apakah saya masih bisa enak makan dan apakah saya masih waras. Saat ini saya masih bisa enak makan dan masih bisa berpikir waras. Selama masih sehat, enak makan, dan berpikiran waras, saya rasa tidak ada alasan untuk tidak bersyukur ya. Alhamdulillah.”  Dilengkapi dengan senyumannya yang khas itu.

Sebuah obrolan yang sangat singkat namun penuh kesan dengan pribadi yang low profile dan penuh canda. Meski selama ini hanya mengenalnya lewat media tapi entah kenapa jawaban itu membuat saya merasa sedikit lega. Saya tahu betapa masalah hukum yang dihadapinya sebagai seorang pejabat publik pemberantas korupsi tidaklah mudah.


Anggia Bonyta

WILL WORK FOR FOOD & RUNNING SHOES

itsy-bitsy-story

enter the wonders of my words

ekaLagi

Up, Close and Personal

Jenggala Aksara

Perempuan dalam taman maya

Diki Umbara

"Di balik layar televisi dan hal-hal lainnya"

Her Schizophrenic Diary

citrasasmita.com

jumping off of a cliff

maybe i'm not something to die for, afterall

MAJELIS SASTRA BANDUNG

ruang sastra yang sebenarnya

mooibandoeng

Senantiasa Belajar Kenal dan Cinta Kota Bandung

Foodie on a Dime

The adventures of one girl, eating well, on a budget